tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku
Gambar ilustrasi berjudul “God is Love – Use Comdoms” tersebut dibuat oleh Ben Heine, seorang seniman dari Belgia, sebagai respons atas sikap Paus Benediktus XVI yang menyerukan penolakan terhadap kampanye kondom dalam pencegahan penyebaran AIDS di Afrika. Respon ini terutama sekali menyerang pernyataan Paus Benediktus XVI selanjutnya mengenai penggunaan kondom yang hanya akan memperparah dan menambah jumlah penderita penyakit AIDS.
Selain ada pihak yang mendukung ekspresi seni dan kritik lewat gambar ilustrasi tersebut, tentu ada juga pihak yang menyikapinya negatif karena menurut mereka itu lebih bersifat mencela simbol ketuhanan ketimbang sikap kepausan sendiri.
Sudah agak lama memang, sekitar pertengahan tahun 2009 ini. Sekadar sebagai tinjauan di akhir tahun saja.
Semoga saya tidak dituntut hanya karena menceritakan perihal ini. Amin.
* gambar ilustrasi oleh Ben Heine – www.flickr.com/photos/benheine
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 15:35 WIB
gambarnya cadass
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 15:40 WIB
Opini personal: Ben Heine terlalu frontal dalam mengkritik Paus Benediktus XVI, dan kebanyakan orang bisa salah menangkap maksudnya
Mayoritas umat kemungkinan besar akan tersulut emosinya.
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 16:08 WIB
Ya Ben Heine tampaknya memang terlalu frontal mengkritik Paus. Mungkin kalo orang Jawa akan bilang “ngono yo ngono neng aja ngono” atawa begitu ya begitu tapi jangan begitu
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 16:57 WIB
Gambarnya keren, tapi kalau bagi kalangan yang lebih tradisional mungkin bisa dibilang penghinaan simbol keagamaan kali ya?
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 19:53 WIB
ahiahia
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 21:29 WIB
Ebuset gambarnya >_<
*merem*
Hari Rabu, 30 Desember 2009 pukul 22:04 WIB
ini protes yang sangat berani sekali..
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 0:26 WIB
Alamakjang! o_O” Itu gambar…
.
.
.
Ah, dari dulu saya masih tidak paham itu logikanya bagaimana; mencegah AIDS, dengan (pembagian) kondom massal, yang notabene justru sebuah kampanye (permisivitas) seks secara massif?
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 0:52 WIB
*cari sarung buat nutup itunya…
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 7:33 WIB
Sepengetahuan saya, ajaran katolik memang tidak menganjurkan penggunaan segala bentuk alat kontrasepsi karena bertentangan dengan konsep prokreasi yang mengharuskan umatnya bersikap terbuka terhadap kelahiran. Jadi tidak sebatas pada konteks pencegahan penyebaran AIDS saja.
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 7:37 WIB
tapi sebenere kampanye AIDS pakai KONDOM ya salah juga seeh, itu malah buat orang2 yang hobi kawin makin leluasa..
padahal kan pori2 kondom masih puluhan kali jauh lebih besar dari virusnya sendiri. meski cairan sperma ndak keluwar tapi kan si virus masih leluasa buat sliweran gettoo![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 9:01 WIB
Tapi kayaknya kalopun ada yang protes, ga bakal seperti You Know Who, yang treak-treak pake lempar batu ituh..
Hari Kamis, 31 Desember 2009 pukul 12:36 WIB
ukuran kondomnya xl
Hari Jumat, 1 Januari 2010 pukul 9:44 WIB
Astaghfirullah
*tutup tab*
Hari Jumat, 1 Januari 2010 pukul 19:36 WIB
Berandai-andai jika yang ditampilkan seperti itu adalah simbol agama-agama lain –misalnya Muhammad, Haile Selassie I, Musa, atau Siddharta Gautama–akankah komentator di sini melayangkan komentar yang seolah-olah melucu atau berguyon tentang gambar tersebut…
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 0:19 WIB
^ Bukannya sudah ada waktu itu, Bang Gun?
Kalau kayak gini, komentarnya bakal lebih sangat panas lagi kayaknya…
Mestinya asosiasi di gambarnya Katedral atau Gereja ya?
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 15:05 WIB
Itu kan nggak vulgar, dan senimannya juga berniat menghormati dengan memuliakan nama Muhammad dan tidak melukis wajahnya. Tapi direspon negatif.
Lumalan lah, dua entri ini dan itu bisa jadi laboratorium sosial yang menarik. Ternyata kita masih multikultural, belum plural, dan itupun kadang semu.
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 18:38 WIB
Gile lo, dulu di Jogja sempet mbuka halaman ini di hadapan orang tua sekilas. Untung mereka ga ngamatin. Di perantauan baru berani buka ini lagi.
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 19:13 WIB
@gunawanrudy:
Sudah dihormati aja komennya pada panas kayak gitu, gimana digambar dengan model a la di entri ini?
Bakar bendera kali ya.
Iya, itu dia maksud saya.
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 19:34 WIB
Lah, saya aja buka bokep di kompie rumah nggak ketahuan tuh. Masak buka laman ini aja pake takut-takut segala di rumah…
Hari Sabtu, 2 Januari 2010 pukul 21:08 WIB
OMAIGAT… akyu horniii
Hari Rabu, 3 Maret 2010 pukul 13:42 WIB
Maaf proyes ya boleh-boleh saja. Tapi jangan menggunakan simbol-simbol seperti itu. Yesus kan Tuhan yang harus dihormati. Beliau datang ke Bumi untuk menebus dosa manusia. Apak ini balasan kita sebagai manusia yang kita lakukan kepadanya?
Hari Sabtu, 6 Maret 2010 pukul 14:48 WIB
BAPA ampunilah dosa anak-Mu itu sebab ia tak tau yang dia perbuat. Menggambar Putera-Mu yang tanpa dosa dengan tidak seharusnya. Yang telah menghapus dosa manusia dikayu salib. Gambarlah Tuhan kita Yesus dengan semestinya.
Hari Selasa, 22 Juni 2010 pukul 8:57 WIB
busyeettt…klo melihat gambarnya langsung tertuju pada sang objek utamanya..hayo yang mana??
Hari Selasa, 22 Juni 2010 pukul 9:03 WIB
waduuuuuhh… apaan tuh