tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku

Rasanya senang sekali bisa menyaksikan penayangan film cin(T)a the movie di Taman Budaya Yogyakarta, Rabu 5 Agustus 2009, dalam rangkaian kegiatan Jogja-NETPAC Asian Film Festival, dengan gratis setelah penantian lebih dari empat bulan.
Bagi saya, keunggulan film ini dibandingkan film Indonesia lainnya adalah pada promosi dan pemilihan tema. Untuk sebuah film independen, promosi yang sangat dilakukan cukup efektif di internet sehingga sebelum film diputar pun, sudah dapat menarik banyak penggemar yang penasaran dan menanti-nanti. Namun promosi itu juga tak lepas dari faktor pemlihan tema yang cukup kontroversial di tengah masyarakat kita.
Tema hubungan lelaki-perempuan berbeda agama dan ras [tertentu] yang mungkin belum digali lebih dalam pada film lain dihadirkan dengan gamblang di sini dan tentunya memikat karena kontroversinya–terlebih lagi bagi para anak muda yang [mengaku] film ini merefleksikan kehidupan cinta mereka.
Hampir semua isi film ini terfokus pada dua orang tokoh utama. Cina (Sunny Soon), pemuda keturunan Tionghoa. mahasiswa baru arsitektur ITB yang brilian dari Tapanuli. Seorang Kristen yang taat. Dan Annisa (Saira Jihan), aktris, juga senior Cina di kampus. Berasal dari keluarga Jawa yang kental dengan unsur Islam. Pada pertemuan pertama Cina langsung meremehkan bahwa kecantikan berbanding terbalik dengan kepandaian, juga menyebutkan bahwa IPK Annisa paling-paling hanya 2,1. Walau ternyata memang benar tebakan IPK tersebut.
Bisa ditebak. Keduanya seringkali bertemu hingga akhirnya Cina membantu penyelesaian Tugas Akhir Annisa. Klise memang, keduanya akhirnya saling jatuh cinta.
Hampir sebagian besar adegan di film ini–yang memang terfokus pada tokoh Cina dan Annisa saja–disorot secara close-up dan fokus pada objek-objek seperti jari, semut, apel, dan lain sebagainya. Pengambilan adegan seperti ini diperkuat dengan adanya musik latar yang sesuai dan dialog-dialog yang keren. Memang, salah satu kekuatan utama dari film ini adalah dialog antar tokoh-tokohnya. Di awal hingga pertengahan film kita akan disuguhi dengan dialog yang mengalir, cerdas, lucu, dan membuat terpukau. Tak jarang bisa membuat tersenyum simpul hingga tertawa ngakak. Menjelang klimaks dan akhir, dialog-dialog yang lebih suram dan melankolis, namun tetap mengena akan lebih banyak kita saksikan.
Walaupun hampir semua dialog di film ini memukau, kedua tokoh utama nampaknya harus bekerja keras agar akting mereka tidak terlihat kaku dan datar. Hal ini karena dipengaruhi oleh pengambilan adegan secara close-up, sehingga fokus penonton akan lebih ke ekspresi dan emosi. Beberapa kali kedua tokoh nampak datar dan masih agak canggung. Ya tentu ini dikarenakan filmografi pertama bagi mereka.
Selain itu juga yang membuat saya agak kecewa adalah adegan-adegan di film ini kadang kurang mengalir. Seperti terputus-putus, ada sesuatu yang hilang atau terlewatkan. Atau bahkan tidak jelas. Misalnya Annisa yang berasal dari keluarga Jawa namun memiliki banyak koleksi wayang golek di tempat tinggalnya, alih-alih wayang kulit purwa. Konflik yang terjadi juga saya rasa kurang terlalu jelas namun dapat membuat keretakan di antara keduanya–paling tidak begitu yang saya lihat terhadap konflik yang menimpa pasangan berbeda agama ini.
Saya rasa pasti ada mereka yang menjalani hubungan berbeda agama yang mengharapkan sebuah konflik dan solusi dan film ini misalnya masalah klasik seperti adanya pertendangan antar keluarga, orang tua yang tidak merestui, pandangan masyarakat, dan lain sebagainya. Namun sayang sekali bagi mereka, kasus klasik seperti itu tidak terdapat dalam film ini, karena hampir tidak adanya tokoh lain selain kedua tokoh utama.
Namun film ini–sebagai debut sutradaranya, Sammaria Simanjuntak–mampu menghadirkan tema yang selama ini cukup dianggap tabu sehingga dapat dihadirkan ke ranah publik dengan segala pro dan kontranya. Serta juga membuat masing-masing penonton mempunyai persepsi dan pandangan yang berbeda-beda dalam melihatnya tanpa harus digiring ke dalam satu opini tunggal.
Dengan tolak ukur film Indonesia ala saya, 7 dari 10 bintang untuk film ini.
* gambar dari halaman depan godisadirector.com
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 19:25 WIB
Kalau dilihat dari trailernya, memang sepertinya acting-nya masih canggung sih. Nggak pernah dengar nama dua pemeran utamanya ini, apa mereka pernah punya pengalaman acting atau tidak (ya, tahu kalau ini film pertamanya)? ‘ ‘a
Ternyata benar-benar fokusnya ke dua orang itu saja ya… Tetap penasaran sih untuk nonton filmnya… =w=
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 20:29 WIB
reviewnya top!
barangkali typo, atau saya yang kurang mengerti.
‘kelir’ atau ‘kulir’ ya?
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 20:47 WIB
Entah kenapa saya kurang menangkap ya kalo hanya melihat dari review ini
Pertanda harus nonton langsung, hahaha
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 21:10 WIB
Jadi… tidak ada solusinya ya? =_=
Menurut Bang Gun apa film ini bisa membuat orang lebih open-minded atau justru diperuntukkan untuk orang yang open-minded?
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 21:43 WIB
Gun, jujur yo, sudah sejak SMA aku suka cewek Cina. Waktu itu muridnya banyak yang Cina, mungkin itu yang mempengaruhiku, hehe.
Jadi, aku harus nonton film ini, nambah wawasan baru, sekalian jaga2 siapa tahu jodohku Cina beneran.
Haha, aku kok malah curhat ning kene!
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 22:00 WIB
Cina itu nama tokohnya toh?
Hari Rabu, 5 Agustus 2009 pukul 22:26 WIB
lalala sunny soon nya ganteng

Hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 3:25 WIB
mengutip dari bu sutradara, film ini nggak menawarkan solusi
justru film ini malah banyak bertanya,
dan semua penonton cin(T)a lah yang diharapkan
berdialog, bertukar pikiran dan mencari jawaban masing-masing.
Hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 8:48 WIB
Penasaran sama dialognya kalo gitu!
Hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 10:18 WIB
@ Adriano Minami:
Review bukan spoiler, nak. Jadi aku konsen ke teknis dan lain sebagainya aja, bukan menceritakan kembali isi filmnya.
@ Xaliber von Reginhild:
Semua pihak….
…untuk yang [merasa] open-minded, jelas sah-sah saja.
Untuk menjadi open-minded, dari apa saja asal ada niat tentu bisa. Nggak harus film memang. Namun khusus film ini, rasanya tamparan-tamparan yang ada cukup tajam asal orangnya bukan berpikir AH-POKOKNYA-AGAMA-GUE-YANG-PALING-BENER dan 100% gak peduli dengan yang lain.
@ Dreamer:![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
Memang seperti itu adanya. Aku hanya menyindir orang-orang yang mencari solusi lewat film ini… Lalalaaa~
Btw, aku jadi merasa si pemeran komen di sini. Hahaaa…
Ahsudahlah.
Hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 18:40 WIB
banyak yang njegleg di film ini,.![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
satu konflik tiba2 sudah jalan ke konflik selanjutnya, tanpa dasar yang kuat pula,.
tapi biarlah chika belajar acting di sini
Hari Kamis, 6 Agustus 2009 pukul 20:35 WIB
I disagree. I call for political correctness given proof by existence of counterexample.
*serius dikit ah*
sebenarnya penggarapan film/cerita dengan sedikit fokus tokoh utama nggak selalu buruk sih, tapi ya screenplay dan eksplorasi psikologisnya harus bagus banget. aktingnya nggak boleh tanggung sih, apalagi kalau plotnya juga nggak berjalan cepat.
nggak tahu juga sih, belum nonton soalnya. ada yang punya materialnya buat dipinjam?
~just my 2 cents
Hari Jumat, 7 Agustus 2009 pukul 22:43 WIB
Kapan kamu upload Gun? Yang pengen donlot banyak nih. Usahakan ya? Gak mungkinlah buat saya yang tinggal di pinggir negara ini nonton secara legal.
Hari Jumat, 7 Agustus 2009 pukul 23:43 WIB
pengen nonton… pengen tau konflik nya apa ajaa…
Hari Sabtu, 8 Agustus 2009 pukul 7:55 WIB
mantap.. nungguin filmnya.. syutingnya juga di kampusa saya sihhh!
Hari Sabtu, 8 Agustus 2009 pukul 22:59 WIB
Hari Minggu, 9 Agustus 2009 pukul 21:00 WIB
Bung kapan opera “IBU — Yang Anaknya Diculik Itu”. Hari apa dan jam berapa? thanks
Hari Senin, 10 Agustus 2009 pukul 7:24 WIB
Btw Gun, ini nggak terasa pretentious sama sekali yah? Biasanya kan yang ngelawan hollier than thou sering jatuh ke lubang yang sama juga.
Hari Senin, 10 Agustus 2009 pukul 7:58 WIB
Dari beberapa kali pengulas film handal (anda saya masukkan ke kategori ini lho :p
saya membaca banyak film kita yang bagus di konsep tapi eksekusinya masih belum rapi yah?
Gara2 review ini saya mau datang ke acara pemutaran film ini di Sydney tanggal 22 Agustus besok ini
Hari Selasa, 11 Agustus 2009 pukul 22:58 WIB
udah ada yang menyelundupkan ke indowebster belum?
Hari Kamis, 13 Agustus 2009 pukul 16:16 WIB
Wah keren reviewnya hehehe sip
Hari Jumat, 14 Agustus 2009 pukul 5:54 WIB
jadi kesimpulannya, pilem cin(T)a = sinetron?
Hari Sabtu, 15 Agustus 2009 pukul 17:34 WIB
pak ketuaa…
blognya banyak amat yakk..
Hari Sabtu, 15 Agustus 2009 pukul 17:38 WIB
boleh juga jd referensi buat nonton.. tp kapan ad alagi yak?
Hari Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 9:32 WIB
hanya diputar di BLITZ yah??sayang sekali
Hari Rabu, 19 Agustus 2009 pukul 21:56 WIB
Ini akan main di 21 ga? Penasaran.
Hari Kamis, 27 Agustus 2009 pukul 12:03 WIB
Hmmm…
Jarang saya pengen nonton felm cinta, tapi mungkin yang ini cukup layak untuk dinikmati… :q
hehehh….
Hari Rabu, 2 September 2009 pukul 8:55 WIB
Saya tidak tahu perihal tayang di XXI/21.
Hari Jumat, 11 September 2009 pukul 14:11 WIB
agak gak ngerti klo dari ulasan cerita di atas..pgn bgd nntn…

Hari Rabu, 23 September 2009 pukul 8:15 WIB
barusan nonton film ini,



wew,kereeeen bangeeeet..
good good good..
Hari Jumat, 15 Januari 2010 pukul 16:05 WIB
[...] buat temen-temen yang pingin ngeliat review filmnya ada disini… review [...]
Hari Jumat, 22 Januari 2010 pukul 12:47 WIB
sedih g sempet nonton film niy,,,,,,,,,,,,,,
ky’a g di kepingin deh yach…
cuma liat trailernya doank+ringkasan critanya za.
plis ksh tw dunk gmn cranya yar bs nonton filmnya dr awal pe slsai…………….
plllliiiiisssssssssssssss…………..
Hari Jumat, 23 April 2010 pukul 20:06 WIB
great film…..
Hari Rabu, 12 Mei 2010 pukul 22:50 WIB
FILM yang mendidik ini buat anak bangsa.
hahahahhaa.
keren men Filmnya.
Sutradaranya aja hebat banget plus jenius.
nggak kepikiran anak ibu pertiwi Indonesia bisa bikin sebagus ini.
Soundtrack FILMnya juga bagus dari Homogenic.
bangga dan salut.
God is a Director …..









Hari Sabtu, 15 Mei 2010 pukul 19:23 WIB
keren bgt ni film . jadi pengen ketemu ama pameran cina LANGSUNG !! cakep

Hari Senin, 24 Mei 2010 pukul 19:44 WIB
SOUNDNYA PARAH..
Hari Senin, 24 Mei 2010 pukul 19:44 WIB
SOUNDNYA KACAU PARAH..
Hari Sabtu, 29 Mei 2010 pukul 2:34 WIB
[...] Cin(T)a. Cina, Tuhan dan Annisa. Film yang saya terlambat nonton. Pertama saya tahu film ini dari Gunawan Rudy. Waktu pertama kali mendengarnya, saya cukup terkejut. Berani juga bikin film seperti ini? Setelah [...]
Hari Minggu, 20 Juni 2010 pukul 17:09 WIB
distributor film ini di cikarang.alamatnya di sebelah mana ya…????
Hari Sabtu, 3 Juli 2010 pukul 0:42 WIB
Tadi baru nonton..soundnya emang kurang jernih*apalagi pas ada hairdryer nerbangin bola .. Tapi wajarlah film indie
abis nonton.. Saya malah jadi galau ga jelas.. Kepikiran kata kata si Cina yang bilang kenapa agama banyak.. Kenapa malah jadi *seperti* penghalang..
Jadi kayak Takdir yang ngelarang..
Jujur kayaknya mental kepercayaan seseorang sama agamanya bakal diuji di film ini..
Rating 8 dari 10 lah =] .. The best indie film i ever watced..