tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku

Alkisah seorang peserta Tim Penelitian Lapangan (TPL) ditanyakan Pak Kepala Dusun (PKD) saat kegiatan pengajian rutin setiap malam Jumat (terutama sekali lebih intensif pada malam Jumat Kliwon) di suatu dusun pedalaman Pekalongan.
PKD: “Mas, ko mas XYZ bonten nderek pengajian?” (Mas, kok mas XYZ nggak ikut pengajian?)
TPL: “Mas XYZ niku sanes Muslim, pak.” (Mas XYZ itu non-Muslim, pak.)
PKD: “Oh, Muhammadiyah to?” (Oh, Muhammadiyah ya?)
TPL: “…”
TPL: “Sanes, niku Katolik.” (Bukan, Katolik.)
PKD: “Aliran anyar nopo?” (Aliran baru ya?)
TPL: “…”
TPL: “Boten, Kristen niku loh pak.” (Nggak, itu Kristen pak.)
PKD: “Ooo…”
* foto petani kentang petungkriyono oleh vuvut zery haryanto
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 17:59 WIB
Dulu Emha Ainun Nadjib juga pernah cerita mirip..
Di suatu pulau di deket Jawa, ada komunitas yang menyarankan anak perempuannya “kalau kawin harus sama orang islam, atau kalau ndak islam minimal muhammadiyah…”
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 17:59 WIB
Lha.
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 18:13 WIB
ini salah satu cerita oleh-oleh dari TPL di pekalongan bulan lalu.
ya, mirip dengan anekdot antropolog. masih berlokasi di pulau di dekat jawa itu juga.
peneliti: “kalau agama warga di sini apa saja ya, pak?”
warga: “oh, di sini alhamdulillah 99% islam, pak. cuma bapak yang tinggal di ujung jalan ini saja yang muhammadiyah.”
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 18:29 WIB
Baru tahu aku ternyata dianggapnya seperti itu
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 20:14 WIB
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 20:15 WIB
Eh tapi, emangnya yang dianggap “Muslim” sama Pak PKD itu yang model apa?
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 20:19 WIB
wah, iya…kamu belum terlalu lama di pulau jawa sih, gun![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
ini fenomena umum di pedalaman
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 21:17 WIB
Inih proyeknya Pujo masih aktual juga ya Gun…???
Bukankah Petungkriyono sekarang udah muncul ke peradaban..???
Seinget sayah, taon 89-90 udah dibangun jalan lumayan besar. Dulu akses termudah ke Petungkriyono lewat Wonosobo, kemudian melompati gunung dimana di sebalik gunung ituh udah masuk daerah Pekalongan….
Hari Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 23:37 WIB
Wah, saya gak masuk hitungan muslim juga kayaknya
Hari Minggu, 7 Februari 2010 pukul 0:41 WIB
Yang bikin kaget, berarti bener-bener cuma kenal Islam ya
Bagimana dengan Buddha dan Konfusianisme?
Hari Minggu, 7 Februari 2010 pukul 2:43 WIB
lah itu mungkin di kampung yah, kasian lagi di kota ..wong sudah seiman ajah nikahnya msh susah kl beda aliran ….cepek dehhh
Hari Minggu, 7 Februari 2010 pukul 7:01 WIB
Waduh…. Pekalongan itu basisnya NU to? Kaum Nahdliyin (bukan nahdhi lho)?? Hehehe…
Hari Minggu, 7 Februari 2010 pukul 18:18 WIB
Oldie vs Nubie, NU vs Muhammadiyah…
Hari Senin, 8 Februari 2010 pukul 9:53 WIB
memang desa tersebut terpencil banget..
listrik disana aja masih pake tenaga kincir..
xixixi..
orang sana nyebut nama agama seperti merek produk..
misalnya pada motor, “honda-nya merk apa mas” padahal jelas2 motor itu bukan merk honda
Hari Senin, 8 Februari 2010 pukul 14:41 WIB
jaid muhamadiyah itu bukan muslim kah?![:-] :-]](http://gun.web.id/smilies/yahoo_whistling.gif)
Hari Senin, 8 Februari 2010 pukul 23:28 WIB
@ setanmipaselatan:

nggak semua pedalaman mirip. yang mirip cuma soal cuma kenal agama islam. kenal pun sebatas kenal, kadang percampuran dengan kultur itu sangat kuat.
soal muhammadiyah non-muslim itu… kalau di jawa timur atau madura sih aku bisa ngerti. ndalilah ternyata di pekalongan juga begitu tho.
@ mbelGedez™:
lha iya ya, itu petungkriyono sudah 20 tahun lebih jadi laboratorium sosialnya, ckckck… tapi gara-gara itu juga tahun demi tahun petiungkriyono dapat ngejar ketertinggalannya, ya kayak bikin jalan gede itu.
tapiiii… bangsatnya itu jalan rusak melulu, dan kadang ada beberapa bagian yang longsor. ya deritanya itu…
tapi mulai tahun 2010 ini sudah mulai turun kok. tahun ini nggak cuma petungkriyono, tapi sudah melebar ke lebakbarang. tahun depan (uhuk, berdoa cari alasan agar bisa lepas dari posisi calon ketua kegiatan) ke kecamatan lainnya. sampai berpuluhpuluh tahun nanti balik ke petungkriyono lagi.
@ Xaliber von Reginhild:
nggak kenal. paling yang tau cuma pak ustadnya yang asal pekalongan kota.
@ annosmile:
wogh, sudah pernah main ke petungkriyono, no? keren!
iya tuh, pas mau dikasih pinjam jupiter-z, “mas, kalau mau pakai aja hondanya.”
oiya, soal sejarah pembangunan listrik tenaga kincir itu, om mbelgedez lebih tau. hahahaa…
*sungkem ke
senioralumni*btw, meski menurut orang “kota” mereka terkesan sektarian, dan meski menurut pemahaman mereka islam itu adalah NU, dan muhammadiyah itu bukan islam… saya bisa bilang sikap mereka terhadap pemeluk agama lain tetap hangat dan ramah. bahkan ketimbang orang “kota” dalam menyikapi perbedaan keyakinan. yaaa… tidak ada semacam diskriminasi atau apalah begitu. yang jelas saya bahagia hidup di sana.
paling tidak itu yang saya rasakan di dusun di mana saya ditempatkan. dan di beberapa dusun di mana saya berkunjung. entah di dusun lainnya.
Hari Selasa, 9 Februari 2010 pukul 10:32 WIB
@manusiasuper
yang diceritakan cak nun itu di madura bro
@gunawan
pekalongan setahuku banyak pesantren, jadi “agak wajar” kalau menganggap muhamadiyah sebagai bukan islam seperti halnya di madura.
Hari Selasa, 9 Februari 2010 pukul 10:48 WIB
Nek PKS sebelah mananya Muhammadiyah?
Hari Selasa, 9 Februari 2010 pukul 11:23 WIB
Saya mbaca komen mas Gun di FB,
Lebih baik yang seperti ini, atau seperti (sebagian) orang kota yang mengenal berbagai agama lain tapi bersikap antipati?
Btw, apa ada prejudice terhadap yang beragama lain disana, mas Gun? Atau apakah apatis, ibaratnya, sepolos anak2 yang tak memberi perhatian?
Hari Selasa, 9 Februari 2010 pukul 12:48 WIB
Masya Allah, bagaimana dengan ana yg Muhammadiyah bukan, NU juga bukan? Apakah akan disebut Islam oleh akhi PKD?
Yah masih ada aja orang yg pikirannya sempit ya, batasan2nya masih segitu doang. Jangankan beda agama, mu kawin sm yg seagama tapi beda suku aja bisa batal. Cih! *kok curhat*
Hari Kamis, 11 Februari 2010 pukul 9:34 WIB
Hari Kamis, 11 Februari 2010 pukul 15:36 WIB
Aiiih… jadi yang Muslim tuh yg aliran apa ya? nek NU masuk ngendi yo?
Hari Jumat, 12 Februari 2010 pukul 17:04 WIB
Hehehe.. Beararti warga disana termasuk Nahdiyin Orthodok bin Konservatif.
Hari Jumat, 12 Februari 2010 pukul 18:14 WIB
@ sandal:
yap, nuansa abangan dan santrinya kental banget.
@ DV:
dusunku fans berat PKB, dan dusun sebelah Golkar sejati.
PKS kalah total di sana.
@ Xaliber von Reginhild:
terhadap agama lain apatis, toh ada beberapa dusun yang benar-benar islam abangan sejati.
temanku di dusun X, pas mau sholat jumat. eh masjid dusun X kosong.
akhirnya ngungsi ke dusun Y. sebelum berangkat ke dusun Y, warga dusun X bilang, “hujan, mas. nggak usah sholat aja. jalan licin, bahaya.”
dan sepulangnya dari sholat di dusun Y, bertemu warga dusun X di sepanjang jalan. ia bertanya, “kok gak sholat jumat, pak?”
dijawab, “oh, ini hari jumat ya? wah saya lupa tuh mas.”
padahal baru aja tadi malam bapak itu pada ikut ritual pengajian tiap malam jumat.
mana yang lebih baik? heheheee, lagi-lagi relatif. tapi kekeluargaan tetap terpelihara mesti beda agama. cukup guyub.
@ nonadita:
bukan sempit. tapi memang pengetahuannya sebatas itu.
jika melihat langsung pasti bisa memahami kok.
btw, di sana nggak pakai bahasa arab-araban. namanya juga islam abangan, islam tradisional.
@ Eka Situmorang-Sir:
mereka itu NU.
Hari Jumat, 12 Februari 2010 pukul 18:20 WIB
Mas XYZ itu bukan kamu kan, Gun?
Hari Jumat, 12 Februari 2010 pukul 18:21 WIB
wah, saya dari ostrali!
Hari Minggu, 14 Februari 2010 pukul 16:14 WIB
whahahahaaha…
khas pedesaan. tp bener gun, walo kl diulik omongan mrk kek ’sektarian’, tp scr sikap jauh lbh toleran.
kowe cepet men sinau boso jowo, nganti jowo kromo barang.
Hari Selasa, 23 Februari 2010 pukul 17:06 WIB
wah. sy belum pernah nemu yang seperti itu (secara sy juga dari kampung).
tapi memang kadang beda sedikit jd senewen
Hari Rabu, 24 Februari 2010 pukul 21:46 WIB
Hahh… menghela Nafas panjang
Hari Kamis, 4 Maret 2010 pukul 16:59 WIB
Hoo… Udah pernah ke sana Gun? Tempat KKNku, kebetulan pula di dusun yang paling pojok, paling terpencil.
Hari Jumat, 12 Maret 2010 pukul 23:28 WIB
oalah, masak ada sampai yang gak mengerti begitu? hehe…
Hari Sabtu, 13 Maret 2010 pukul 1:04 WIB
[...] jenggotnya itu karena tren, bukan karena ia seorang pengunjung mesjid yang rajin. Seorang yang tidak tahu-menahu mengenai agama selain Islam, belum tentu ia berarti jadi seorang radikal yang membenci umat agama lain. Seorang yang mendukung [...]
Hari Kamis, 25 Maret 2010 pukul 11:59 WIB
huhauhauaa…. untuk masyarakat yang “sangat abangan” di daerah, sebenernya anggapan bahwa “muhammadiyah” itu tidak se agama (or at least berbeda dari islam mereka), lebih karena fakta sejarah ketika awal muhammadiyah berdiri. Dogma muhammadiyah yang memberantas TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat) agaknya menjadikan secara turun temurun masyarakat yang “sangat abangan” itu menganggap Muhammadiyah sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dengan keyakinan mereka, yang meskipun Islam namun masih tercampur dengan adat-budaya nenek moyangnya… hehe
Hari Minggu, 2 Mei 2010 pukul 8:27 WIB
begitulah negeri ini
ah dasar antropolog cerdas kau ini
Hari Minggu, 9 Mei 2010 pukul 4:37 WIB
hhe,. ada-ada aja
Hari Selasa, 22 Juni 2010 pukul 8:50 WIB
numpang ketawa aja dah

Hari Kamis, 24 Juni 2010 pukul 23:36 WIB