tak hanya titik di penghujung kalimat itu, bahkan torehan kata tamat pun tak akan sanggup merenggut kau daripadaku

Rumah Betang bukan sekadar rumah panggung masyarakat Dayak yang berukuran besar saja. Ada banyak filosofi yang terkandung dalam rumah Betang yang dihuni oleh puluhan kepala keluarga dalam satu atap tersebut, yaitu nilai kebersamaan, kerukunan, persamaan hak, tenggang rasa, serta saling menghormati.
Dengan berpegang teguh pada filosofi rumah Betang tersebut, Betang.COM hadir sebagai media online yang memuat segala sesuatu tentang Kalimantan Tengah khususnya kebudayaan Dayak.
Silakan kunjungi Betang.COM ![]()
* foto dari katingankab.go.id
Hari Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 23:41 WIB
Tulisan asal jadi.
*modyar*
Hari Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 23:51 WIB
filosofi rumah itu tentunya bisa digunakan dalam banyak hal yakz…
tapi2.. masih ada ngak seperti itu?
Hari Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 23:56 WIB
Sayangnya, Rumah Betang yang asli (digunakan sebagai tempat hidup puluhan kepala keluarga) hanya dapat ditemukan di pedalaman Kalimantan saja.
Yang di kota pun, hanya jadi tempat wisata atau bangunan cagar budaya saja…
Hari Minggu, 10 Mei 2009 pukul 10:38 WIB
terima kasih pada betang.com dan adminnya yang telah memberikan tumpangan hosting kepada saya

Hari Minggu, 10 Mei 2009 pukul 11:16 WIB
*ke TKP*
Hari Minggu, 10 Mei 2009 pukul 22:11 WIB
duh gak kebayang deh banyank keluarga dalam 1 atap, ributnya kayak apa ya?
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 1:08 WIB
*bayangin Gun pake pakaian adat dayak*
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 5:38 WIB
Diriku ngak begitu ngerti tentang adat dayak sebenernya
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 8:40 WIB
wah dibawahnya jadi kandang kambing ya??
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 14:40 WIB
ada apa ini >? ok posting ttg rumah leluhur saya ?
keren itu rumah kok
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 19:35 WIB
di mana “letak” ibu di betang, gun?
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 20:20 WIB
Seperti biasanya, pertanyaan yang jawabannya bisa ta ketik jadi satu artikel tersendiri.
Singkatnya dulu aja–semoga nanti ada waktu buat nulis–”ibu” di betang jika dilihat sebagau satu sosok yang mengayomi kesemuanya, itu ada pada masing-masing ibu dari sub keluarga (karena kebanyakan memang puluhan orang yang tinggal di betang merupakan satu famili). Ibu, tercermin dari kegiatan-kegiatan komunal para perempuan yang menjaga anak-anaknya, mengolah hasil pertanian/perburuan, menyiapkan masakan di dapur, dll. Ibu itu mereka, perempuan-perempuan yang saling bahu-membahu.
Hal itu tentu berbeda sekali saat sekarang di mana para perempuan Dayak tidak bisa bahu-membahu dengan perempuan lain ketika mengatur keluarganya. Di dalam betang, memang ada sekat-sekat atau ruang privasi untuk sub keluarga, namun secara umum kegiatan komunal dilakukan bersama-sama, dan ada aturan tak tertulis (norma) yang dipatuhi oleh tiap penghuninya.
Zaman berubah, orang Dayak tidak lagi hidup di betang, terpencar-pencar ke hunian privasi per keluarga. ADa berapa betang yang benar-benar asli ditinggali ratusan kepala sekarang ini? Entah, angka belasan pun bisa kuragukan.
Jadi mau nulis yang lengkapnya.
Hari Senin, 11 Mei 2009 pukul 21:16 WIB
bukan itu sih sebenarnya yg ku tanyain, tp sebagai informasi itu tetap menarik. maksudku gini:
di sumba, ada istilah “rumah ina” (ibu) dan “rumah ama” (bapak), kendati sebenarnya itu merujuk pintu. di rumah ama itulah banyak hal yang dalam kosa kata modern disebut sebagai “negoasiasi politik” digelar, seperti pergantian kepala suku, pertukaran waris, pembagian waris, dll. tp di rumah ina, dilakukanlah transmutasi wacana ttg kesadaran, seperti digelarnya dongeng2, pelajaran ttg pantun2, dll. ini merefleksikan dua prinsip besar yg pernah dikatakan Vandana Shiva: prinsip feminin dan prinsip maskulin.
adakah yg sejenis tp tak sama dengan itu di betang, gun?
Hari Selasa, 12 Mei 2009 pukul 15:19 WIB
yang aku heran dari dulu gun,
dalam rumah itu kayak apa ya..
sering liat gambar luarnya, tapi blom pernah liat peta dan skema di dalem rumah itu.
ada kamar anak2 sendiri gak?
trus gimana kalo si suami istri mau berhubungan intim?
ada kamar sendiri?
Hari Selasa, 12 Mei 2009 pukul 15:56 WIB
potone apikkk…


sebagus pilosopine…
Hari Selasa, 12 Mei 2009 pukul 23:12 WIB
wah

seru kali ya kalo ada dalam rumah ituuu
keknya adem sejuk gmn gitu
Hari Rabu, 13 Mei 2009 pukul 8:47 WIB
Zen, pending dulu.
Tika, ada ruangan pribadi masing-masing keluarga dalam rumah besar itu. Aku ada buku yang memuat foto-fotonya (tapi bukunya di rumahku di Kalimantan), nanti kusuruh adikku scan dan kirim ke sini ah.
Nyebutnya ya… Kayak semacam kost-kostan gede.